GOWA, FIBGERS– Isu perselingkuhan yang menimpa Bupati Gowa, Husniah Talenrang, masih terus bergulir hingga kini.
Pengamat politik, Arief Wicaksono, menilai ada kemungkinan kontestasi elite di balik isu perselingkuhan Husniah Talenrang. Menurutnya, isu personal kerap menjadi pintu masuk bagi dinamika kekuasaan yang lebih dalam di tingkat daerah.
“Kelompok-kelompok kepentingan yang merasa tidak terakomodasi bisa memanfaatkan momentum ini untuk menekan atau mendelegitimasi pemerintahan yang berjalan,” ujar Arief kepada Majesty, Selasa (12/5/2026).
Arief menilai bahwa isu perselingkuhan yang menggunggah pemerintahan di Gowa ini bukan hanya soal krisis kepercayaan terhadap publik.
Kata dia, fenomena di Kabupaten Gowa belakangan ini perlu dibaca secara cermat dan berlapis. Ia menyebut setidaknya ada beberapa kemungkinan skenario yang sedang berlangsung secara bersamaan.
“Ketika isu yang menyangkut perilaku personal pejabat publik memasuki ruang sosial apalagi sampai viral, itu menandakan ada defisit kepercayaan yang cukup dalam antara masyarakat dengan pemimpinnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, pengamat politik tersebut mengatakan bahwa dalam tradisi demokrasi lokal, kepercayaan publik adalah modal dasar tata kelola pemerintahan yang efektif. Ia juga membuka kemungkinan bahwa isu ini bagian dari dinamika politik elite yang lebih dalam.
“Kita perlu membedakan antara mana suara rakyat yang murni dan mana yang terstruktur secara politis,” tegas Arief Wicaksono.
*Soroti Penyelesaian Konflik*
Selain krisis kepercayaan dan kontestasi elite, Arief menyoroti kemungkinan refleksi kekosongan mekanisme penyelesaian konflik internal pemerintahan. Menurutnya, ketika sebuah isu yang sejatinya bisa diselesaikan secara internal malah bocor ke publik, itu mengindikasikan kanal komunikasi tidak berfungsi dengan baik.
Terkait apakah isu ini menunjukkan lemahnya pemerintahan Bupati Gowa, Husniah Talenrang dan Wakil Bupati, Darmawansyah Muin. Arief mengaku terlalu dini untuk menyimpulkan demikian.Yang pastinya bahwa hal tersebut merupakan ujian bagi pemerintahan di Kabupaten Gowa.
“Yang bisa kita katakan adalah pemerintahan ini sedang menghadapi ujian legitimasi yang tidak ringan. Lemah atau kuatnya pemerintahan akan lebih terukur dari cara mereka merespons krisis ini, apakah dihadapi dengan transparan dan akuntabel, atau justru dengan penolakan dan manuver politik,” pungkasnya. (*)
Comment