FINGERS.NEWS — Komoditas rumput laut dari Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kian menunjukkan dominasinya di kancah internasional. Produk perikanan ini berhasil menembus pasar ekspor hingga ke negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat (AS), Taiwan, Cina, dan Belanda.
Dinas Perikanan Takalar mencatat sekitar 3-5 persen dari total produksi rumput laut di daerah tersebut rutin diekspor ke luar negeri. Kenaikan tren produksi hingga dua persen dalam tiga tahun terakhir menunjukkan ketahanan komoditas ini di tengah tekanan pasar global, sekaligus menegaskan peran Takalar sebagai kontributor utama budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan.
Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan Takalar, M Misbah, mengungkapkan bahwa produk ekspor utama berasal dari jenis Eucheuma cottonii, Gracilaria sp, dan Gracilaria gigas.
Komoditas tersebut dikirim dalam bentuk bahan baku mentah (rumput laut kering) atau dalam bentuk olahan tepung karagenan.
- Eucheuma cottoni dan Gracilaria sp diekspor ke Cina, Jepang, AS, dan Taiwan.
- Gracilaria gigas, yang merupakan spesies endemik di Ujung Baji, menjadi komoditas ekspor khusus menuju Belanda.
Pengiriman komoditas ini dilakukan melalui industri yang telah bekerja sama dengan badan karantina, dengan titik keberangkatan dari pelabuhan atau bandara di Kota Makassar.
Misbah menambahkan bahwa meskipun dihadapkan pada persaingan dan tekanan pasar internasional, tren produksi rumput laut Takalar justru menunjukkan pertumbuhan yang positif.
“Tren produksi dalam 3 tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1-2 persen,” ujar Misbah pada Sabtu (1/11/2025).
Kontribusi Takalar terhadap budidaya rumput laut Sulsel sangat signifikan, di mana daerah ini menyumbang 14,9 persen dari total produksi provinsi pada tahun 2024.
Secara volume, produksi rumput laut Takalar tercatat:
- 2023: 617.810 ton
- 2024: 619.801 ton
- Hingga September 2025: 463.155 ton. (*)
Comment